Tetes air mata basahi pipiku
Di saat kita kan berpisah
Terucapkan janji padamu kasihku
Takkan kulupakan dirimu
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku
Aku akan datang
Mungkinkan kita kan slalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
Tuk melepaskan semua kerinduanku
Lambaian tanganmu iringi langkahku
Terbersit tanya di hatiku
Akankah dirimu kan tetap milikku
Saat kembali di pelukanku
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku
Aku akan datang
Mungkinkan kita kan slalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
Tuk melepaskan semua kerinduanku
25 Juni 2012, tepat hari ini, dan tepat pukul 05.30,telah meninggal dunia anak anjingku yang kusayangi.
Dia lahir prematur dengan cacat fisik yang cukup membuatku meneteskan air mata. Terlebih, pada umur 1 minggu, induknya meninggal pula karena berusaha melindungi anaknya dari serangan ular di kebun belakang rumah kami.
Unying, itu nama yang kupilih, entah kenapa :( Hari itu, saat hari Sabtu, aku mandikan unying seperti biasa, walaupun unying baru umur 1 bulan aku sudah biasa memandikannya, tapi hari itu berbeda, tiba-tiba ia teriak saat aku menyiramkan air padanya. Tapi tetap kuteruskan dengan pikiran dangkal, yaitu paling dia kedinginan seperti biasa. Lalu, setelah mandi kukeringkan di bawah terik matahari--aneh--, ia gemetaran. Aku sudah mulai bingung, tapi sekali lagi aku berpikir dangkal, yaitu " paling nanti juga hilang."
Lalu, ia tak mau makan, kami sekeluarga sudah takut dan memaksanya makan dengan dot. Tapi ia terus menggonggong tanpa henti, sepanjang malam mama terus terjaga untuk menjaga unying.
Minggu, 24 Juni 2012, kami ke gereja. Pulang dari gereja, Unying tetap menggonggong terus, seperti menahan kesakitan yang sangat mendalam. Aku langsung sesak napas melihat Unying seperti itu. Unying terus seperti itu. Ingin rasanya bawa Unying ke dokter, tapi hari itu hari minggu, dokter hewan tutup. Kami sudah berminat membawanya ke dokter pada hari Senin pagi, tapi naas. Pagi itu, ia sudah dijemput Tuhan untuk menemui induknya. Keadaannya sungguh sangat mengerikan, saking kecapekan menggonggong matanya sampai melotot. Air mata ini tak kunjung berhenti menangis. Tapi, aku ikhlas, dan aku tahu ini salahku.Dan penyesalan ini terlambat.
Ternyata, jantung Unying lemah.
Selamat jalan sayang, selamat jalan Unying. Kakak sangat menyayangimu :)
Senin, 25 Juni 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar